islamic clock

ZUNI PRASANTI (2009-31-120)

MAKALAH KESEHATAN MENTAL. YULIAR PUSPA MEGA (2009-31-104)

MAKALAH
KESEHATAN MENTAL

Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental
Semester Gasal Tahun Akademik 2010/2011
Diampu Oleh : Indah Lestari S,pd





















Disusun oleh Kelompok I :
1. Isih Nur Ani 2009-31- 097
2. Yuliar Puspa Mega 2009-31-104
3. Edy Rianto 2009-31-





UNIVERSITAS MURIA KUDUS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGDI BIMBINGAN DAN KONSELING
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kegiatan kesegaran jasmani, serta kesehatan mental untuk dapat meningkatkan sikap dan perilaku peserta pendidikan agar tercapai individu yang sehat jasmani dan rohaninya dalam melaksanakan tugas sebagai mahasiswa maupun sebagai konselor nantinya.

A. Tujuan Umum
Setelah selesai mengikuti pembelajaran kesehatan mental ini mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan tentang cara memelihara kesehatan asmani, melalui berbagai kegiatan:
1. Kesegaran jasmani bertujuan agar tercapai mahasiswa yang sehat jasmani.
2. Kesehatan mental bertujuan agar mahasiswa dapat memahami pentingnya kesehatan mental demi kelancaran melaksanakan tugasnya sebagai haasiswa maupun sebagai konselor nantinya.

B. Tujuan Khusus
Setelah selesai mengikuti pembelajaran kesehatan mental ini, hahasiswa dapat menjelaskan manfaat-manfaatnya diantaranya :
1. Dengan berolahraga bagi kesehatan jasmani
2. Kesehatan mental bagi kelancaran pelaksanan tugas sebagai mahasiswa maupun sebagai konselor nantinya.
BAB II
ISI

A. Pengertian
Kesehatan merupakan dasar untuk meningkatkan kesegaran jasmani seseorang dalam berpola hidup sehat. Sedangkan pola hidup sehat pada dasarnya adalah suatu kesatuan program yang meliputi program kesehatan, kesegaran jasmani, gizi, dan aktivitas berekreasi. Dengan melaksanakan pola hidup sehat secara baik dan benar, maka mahasiswa akan mempunyai tubuh yang sehat, tingkat kesegaran jasmani yang mamadai serta mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan mental melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat positif. Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan pola hidup sehat adalah sebagai berikut :
1. Berpenampilan lebih sehat dan ceria
2. Dapat tidur nyenyak
3. Dapat meningkatkan kehidupan sosial baik dilingkungan keluarga maupun masyarakat
4. Dapat belajar / berkarya dengan baik
5. Dapat meningkatkan produktivitas kerja
6. Berpikir sehat dan positif
7. Merasa tenteram dan nyaman
8. Memiliki rasa percaya diri dan hidup seimbang.

Dalam Undang-undang No.23 tahun 1992, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dari penjelasan tersebut dapat terlihat bahwa kesehatan bukanlah semata-mata keadaan bebas dari penyakit, cacat/kelemahan yang merupakan hak bagi setiap orang adalah hidup sehat secara badaniah, sosial, dan rohani. Sedangkan yang dimaksud dengan “pola hidup sehat” adalah segala upaya menerapkan kebiasaan baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan diri dari kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
Kebiasaan-kebiasaan baik dalam pola hidup sehat yang dapat dilaksanakan dalam kehidupa sehari-hari yaitu :
1. Pemeliharaan kebersihan dan kesehatan pribadi
2. Makan makanan yang sehat
3. Pemeliharaan kesehatan lingkungan yang berarti menjaga kebersihannya.
4. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
5. Menghindari kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan
6. Menghindari memakai perlengkapan pribadi orang lain.
7. Jangan melakukan hubungan seksual di luar nikah
8. Mengendalikan stress

Penerapan pola hidup sehat melalui “Pesan Tangan” :
S Seimbang gizi
E Enyahkan kebiasaan buruk
H Hidup seimbang
A Awasi bagian tubuh rawan
T Teratur hidup

B. Kesehatan Mental
Pengertian mental, menurut Webster Dictionary, mental adalah “way of thingking”. Menurut Purwodarminto, mental adalah “way of sense” dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mental merupakan cara berpikir dan berperasaan berdasarkan atas nurani yang tercermin pada perilaku seseorang dalam situasi kehidupan sehari-hari.
Pengertian kesehatan mental menurut Dr. Zakiah Darajat (1996) sebagai berikut :
1. Terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan jiwa dan gejala-gejala penyakit jiwa.
2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan diman aia hidup.
3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat, dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin sehingga membaur pada kebahagiaan diri dan orang lain. Serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

C. Sejarah Tentang Kesehatan Mental
Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relative mudah dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering kali tidak terdeteksi sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku - tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Khusus untuk masyarakat Indonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum begitu mendapat perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda membuat perhatian terhadap kesehtan mental kurang terpikirkan. Tingkat pendidikan yang beragam dan terbatasnya pengetahuan mengenai perilaku manusia turut membawa dampak bahwa kurangnya kepekaan masyarakat terhadap anggotanya yang mesti mendapat pertolongan di bidang kesehatan mental. Oleh karena itu berikut disajikan sejarah mengenai perkembangan kesehatan mental, terutama di Amerika dan Eropa sebagai suatu referensi berbagai pandangan mengenai kesehatan mental yang saat ini ada di Indonesia.


1. Gangguan mental tidak diangap sebagai sakit
a. Tahun 1600 dan sebelumnya
Dukun asli Amerika (Indian) sering juga disebut sebagai “penyembuh” orang yang mengalami gangguan mental dengan cara meanggil kekuatan supranatural dan menjalankan ritual penebusan dan penyucian.
b. Tahun 1692
Pendapatkan pengaruh dari para imigran dari eropa yang beragama nasrani, di Amerika, John Locke (1690) dalam tulisannya yang berjudul An Essay Concerning Understanding, menyatakan bahwa terdapat derajad kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara terus menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengakuan secara tepat. Pandangan John Locke ini bertahan di Eropa sampai abad ke-18.

2. Gangguan Mental Dianggap Sakit
a. Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather (1663-1728) memasalahkan takhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik megnenai sakit jiwa itu sendiri. Pada saat ini beni-benih perdebatan secara medis mulai dikenalkan yaitu dengan memberikan penjelasan masalah kejiwaan sebagai akibat gangguan yang terjadi di tubuh.
b. Tahun 1812
Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah penanganan secara manusiawi untuk penyakit mental dengan publikasinya yang berjudul Medical Inquirier and Observation upon Diseas of the Mind. Ini merupakan buku teks psikiatri Amerika pertama.


c. Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.
d. Tahun 1908
Clifford Beers (1876-1943) mendirikan masyarakat Connecticut untuk mental hygiene yang kemudian paa tahun berikutnya berubah menjadi Komite Nasional untuk Mental Higiene yang merupakan pendahulu Asosiasi kesehatan Mental Nasional sekarang ini. Tujuan asosiasi ini adalah untuk :
Memperbaiki sikap masyarakat terhadap penyakit mental dan penderita sakit mental.
Memperbaiki pelayanan terhadap pendertia sakit mental
Bekerja untuk pencegahan penyakit mental dan mempromosikan kesehatan mental.
e. Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clarck di Worchester Massachusetts.
f. Tahun 1910
Emil Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan epilepsy.
g. Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanalisa
h. Tahun 1920-an
Pada tahun 1920-1930 di Eropa terjadi perubahan treatmen dalam emnangani gangguan mental. Perubahan ini berkat pengaruh teori Freud yang pada amsa itu menjadi terkenal. Perubahan treatmen tersebut meliputi :
Treatmen di dalam rumah sakit kurang diminati diganti treatmen yang dilakukan di luar rumah sakit.
Treatmen dilakukan tidak memerlukan sertifikasi
Treatmen dilakukan di rumah pasien.
i. Tahun 1930-an
Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizofrenia.
j. Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai labotomi frontal manusia yang pertama. Akibantya antara tahun 1936 sampai pertengahan1950-an diperkirakan 20.000 prosedur pembedahan digunakan terhadap pasien mental Amerika.
k. Tahun 1940-an
Elektroterapi yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental. Pada thaun 1940-1950 dimulainya perawatan masyarakat bagi penderita gangguan mental di Inggris.
l. Tahun 1947
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.
m. Tahun 1952
Obat antipsikotik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenalkan untuk menangani pasien schizoprenia dan gangguan mental utama lainnya.

3. Gangguan Mental Dianggap sebagai Bukan Sakit
a. Tahun 1961
Thomas Szasz membuat tulisan yang berjudul The Myth of Mental Illness yang mengemukakan dasar teori yang menaytakan bahwa “sakit mental” sebenarnya adalah betul-betul “sakit” tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.
Tahun 1962
Ada 422.000 orang yang tinggal di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat
b. Tahun 1970
Ada beberapa program bagi pasien yang telah keluar dari rumah sakit, untuk merehabilitasi dan kembali ke masyarakat.
Berdasarkan sejarah kesehatan mental di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sakit mental / sakit jiwa / gangguan mental ternyata berbeda-beda dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Makna gangguan mental yang berbeda-beda tersebut membawa implikasi yang berbeda juga dalam menangani individu yang terkena gangguan mental. Biasanya dikarenakan pengaruh agama monoteis yang dianut oleh masyarakat setempat. Akibatnya perlakuan terhadap individu yang mengalami gangguan mental menjadi berbeda. Ritual masih tetap diadakan, tetapi perlakuan masyarakat sekitar terhadap si penderita menjadi negatif. Penderita biasanya ditolak dan diasingkan karena sedikit banyak dianggap berbahaya / membawa akibat negatif bagi sekitarnya. Namun bisa saja pada beberapa kasus, penderitanya malah dianggap sebagai Nabi/ wakil Tuhan sehingga jusru menarik banyak pengikut meskipun ajarannya secara logika tidak mengacu pada akal sehat.


BAB III
PEMBAHASAN

A. Cara-Cara Mengatasi Masalah Gangguan Mental
1. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah:
a. Berusaha memahami hakikat manusia yang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda dengan adanya kekurangan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing manusia / individu, termasuk mamahami diri sendiri melalui cara introspeksi diri.
b. Konsultasikan kepada orang yang dianggap bisa membantu menyelesaikan / mengatasi masalah.
c. Mencurahkan isi hatinya kepada orang lain yang dipercaya
d. Berpikiran positif
e. Realistis
f. Berusaha untuk menyesuaikan diri yang bisa dilakukan secara :
Alloplastics yaitu dengan mengubah sikap eprilaku diri sendiri agar sesuai dengan situasi dan kondisi lingkunga, jika diri sendiri tidak mempu mengubahnya.
Geneplasties yaitu dengan megnadakan perubahan pada diri sendiri dan pada lingkungan sepanjagn hal tersebut memungkinkan.
Autoplasties yaitu mengubah situasi dan kondisi lingkungan sesuai dengan yang kita harapkan, sepanjang hal tersebut memungkinkan, baik secara kemampuan, kemauan, kewenangan maupun peluang, sehingga seseorang akan merasa lebih baik, sedang, nyaman dan bahagia.
g. Melakukan rekreasi dan olahraga ringan agar secara fisik maupun mental seseorang emrasa lebih segar dan enak.
h. Merelaksasi
i. Berdoa dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga seseorang akan merasa tenang, tenteram, dan damai.

2. Ketidakmampuan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya maupun terhadap lingkungan dengan istilah stress. Hans Selye (1976) dalam “The Stress Life” menuliskan beberapa cara untuk mengatasi stress yaitu :
a. Berusaha untuk rileks tenang dalam menghadapi tugas maupun masalah.
b. Pelihara fisik seseorang dengan gizi yang memadai dan berolahraga yang teratur
c. Penuhi kebutuhan rohani dengan berdoa, laksanakan ajaran dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keyakinan.

3. Gangguan mental dapat diobati secara informal berupa partisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan dan didukung oleh filsafat / ideology tertentu mengenai bagaimana seseorang harus hidup.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Ciri-Ciri Mental yang Sehat
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi metal yang sehat
a. Internal
Faktor internal adalah yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor keturunan juga cenderung memegang peran tehadap reaksi seseorang
b. Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang ada di luar diri manusia dan dapat mempengaruhi mental.

2. Ciri-ciri mental sehat
a. Jujur (sidiq)
b. Terpercaya (amanah)
c. Adil
d. Konsisten (istiqomah)
e. Dapat bekerjasama
Dari berbagai sumber dapat dikemukakan beberapa kesehatan mental yang merupakan cerminan dari budi pekerti luhur sebagai berikut :
a. Beriman dan bertaqwa
b. Bertanggung jawab
c. Berpikir positif
d. Bersikap sopan
e. Dewasa
f. Disiplin
g. Menghargai waktu

3. Mental produktif
Cara berpikir dan berperan yang didasarkan kepada hati nurani untuk selalu berbuat sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi diri sendiri, oranglain, dan masayarat. Ciri-ciri mental produktif:
a. Produktif
b. Berinisiatif
c. Bekerja keras
d. Semagnat
e. Berpikir jauh ke depan
f. Menghargai waktu
g. Tekun

4. Pengaruh timbal balik antara kondisi mental dan fisik
Kita mengenal istilah dalam badan yang sehat terdapat mental yang sehat. Padahal seringkali terjadi hal yang sebaiknya, mental yang tidak sehat menyebabkan badan tidak sehat. Hal ini disebut psikomatis yaitu gangguan fisik yang disebabkan adanya gangguan mental.
C. Teori-Teori Mental Yang Sehat
Manifestasi mental yang sehat (secara psikologis) menurut Maslow dan Mittlemenn adalah sebagai berikut.
1. Adequate feeling of security (rasa aman yang memadai). Perasaan merasa aman dalam hubungannya dengan pekerjaan, sosial, dan keluarganya.
2. Adequate self-evaluation (kemampuan menilai diri sendiri yang memadai), yang mencakup: (a) harga diri yang memadai, yaitu merasa ada nilai yang sebanding pada diri sendiri dan prestasinya, (b) memiliki perasaan berguna, yaitu perasaan yang secara moral masuk akal, dengan perasaan tidak diganggu oleh rasa bersalah yang berlebihan, dan mampu mengenal beberapa hal yang secara sosial dan personal tidak dapat diterima oleh kehendak umum yang selalu ada sepanjang kehidupan di masyarakat.
3. Adequate spontaneity and emotionality (memiliki spontanitas dan perasaan yang memadai, dengan orang lain), Hal ini ditandai oleh kemampuan membentuk ikatan emosional secara kuat dan abadi, seperti hubungan persahabatan dan cinta, kemampuan memberi ekspresi yang cukup pada ketidaksukaan tanpa kehilangan kontrol, kemampuan memahami dan membagi rasa kepada orang lain, kemampuan menyenangi diri sendiri dan tertawa setiap orang adalah tidak senang pada suatu saat, tetapi dia harus memiliki alasarn yang tepat.
4. Efficient contact with reality (mempunyai kontak yang efisien dengan realitas) Kontak ini sedikitnya mencakup tiga aspek, yaitu dunia fisik, sosial, dan diri sendiri atau internal. Hal ini ditandai (a) tiadanya fantasi yang berlebihan, (b) mempunyai pandangan yang realistis dan pandangan yang luas terhadap dunia, yang disertai dengan kemampuan menghadapi kesulitan hidup sehari-hari, misalnya sakit dan kegagalan, dan (c) kemampuan untuk berubah jika situasi eksternal tidak dapat dimodifikasi. Kata yang baik untuk ini adalah: bekerjasama tanpa dapat ditekan (cooperation with the inevitable).
5. Adequate bodily desires and ability to gratify them (keinginan-keinginan jasmani yang mamadai dan kemampuan untuk memuaskannya). Hal ini ditandai dengan (a) suatu sikap yang sehat terhadap fungsi jasmani, dalam arti menerima mereka tetapi bukan dikuasai: (b) kemampuan memperoleh kenikmatan kebahagiaan dari dunia fisik dalam kehidupan ini, seperti makan, tidur, dan pulih kembali dari kelelahan; (c) kehidupan seksual yang wajar, keinginan yang sehat untuk memuaskan tanpa rasa takut dan konflik; (d) kemampuan bekerja; (e) tidak adanya kebutuhan yang berlebihan untuk mengikuti dalam berbagai aktivitas tersebut.
6. Adequate self knowledge (mempunyai kemampuan pengetahuan yang wajar). Termasuk di dalamnya (a) cukup mengetaui tentang: motif, keinginan, tujuan, ambisi, hambatan, kompensasi, pembelaan, perasaan rendah diri, dan sebagainya; dan (b) - penilaian yang realistis terhadap milik dan kekurangan, penilaian diri yang jujur adalah dasar kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sifat dan tidak untuk menanggalkan (tidak mau mengakui) sejumlah hasrat penting atau pikiran jika beberapa di antara hasrat-hasrat itu secara sosial dan personal tidak dapat diterima. Hal itu akan selalu terjadi sepanjang kehidupan di masyarakat.
7. Integration and concistency of personality (kepribadian yang utuh dan konsisten). Ini bermakna (a) cukup baik perkembangannya, kepandaiannya, berminat dalam beberapa aktivitas; (b) memiliki prinsip moral dan kata hati yang tidak terlalu berbeda dengan pandangan kelompok; (c) mampu untuk berkonsentrasi; dan (d) tiadanya konflik-konflik besar dalam kepribadiannya dan tidak disossosiasi terhadap kepribadiannya.
8. Adequate Life goal (memiliki tujuan hidup yang wajar). Hal ini berarti (a) memiliki tujuan yang sesuai dan dapat dicapai; (b) mempunyai usaha yang cukup dan tekun mencapai tujuan; dan (c) tujuan itu bersifat baik untuk diri sendiri dan masyarakat.
9. Ability to learn from experience (kemampuan untuk belajar dari pengalaman). kemampuan untuk belajar dari pengalaman termasuk tidak hanya kumpulan pengetahuan dan kemahiran keterampilan terhadap dunia praktik, tetapi elastisitas dan kemauan menerima dan oleh karena itu tidak terjadi kekakuan dalam penerapan untuk menangani tugas-tugas pekerjaan. Bahkan lebih penting lagi adalah kemampuan untuk belajar secara spontan.
10. Ability to satisfy the requirements of the group (kemampuan memuaskan tuntutan kelompok). Individu harus: (a) tidak terlalu menyerupai anggota kelompok yang lain dalam cara yang dianggap penting oleh kelompok; (b) terinformasi secara memadai dan pada pokoknya menerima cara yang berlaku dari kelompoknya; (c) berkemauan dan dapat menghambat dorongan dan hasrat yang dilarang kelompoknya;(d) dapat menunjukkan usaha yang mendasar yang diharapkan oleh kelompoknya: ambisi, ketepatan; serta persahabatan, rasa tanggung jarvab, kesetiaan, dan sebagainya, serta (e) minat dalam aktivitas rekreasi yang disenangi kelompoknya.
11. Adequate emancipation from the group or culture (mempunyai emansipasi yang memadai dari kelompok atau budaya). Hal ini mencakup: (a) kemampuan untuk menganggap sesuatu itu baik dan yang lain adalah jelek setidaknya; (b) dalam beberapa hal bergantung pada pandangan kelompok; (c) tidak ada kebutuhan yang berlebihan untuk membujuk (menjilat), mendorong, atau menyetujui kelompok; dan (d) untuk beberapa tingkat toleransi; dan menghargai terhadap perbedaan budaya.

Carl Rogers mengenalkan konsep Fully Functioning (pribadi yang berfungsi sepenuhnya) sebagai bentuk kondisi mental yang sehati (Schultz, 1991). Secara singkat fully functioning person ditandai (1) terbuka terhadap pengalaman; (2) ada kehidupanpada dirinya; (3) kepercyaan kepada organismenya; (4) kebebasan berpengalaman; dan (5) kreativitas.
Golden Allport (1950) menyebut mental yang sehat dengan maturtity personality. Dikatakan bahwa untuk mencapai kondisi yang matang itu melalui proses hidup yang disebutnya dengan proses becoming. Orang yang matang jika: (1) memiliki kepekaan pada diri secara luas; (2) hangat dalam berhubungan dengan orang lain: (3) keamanan emosional atau penerimaan diri; (4) persepsi yang realistik, keterampilan dan pekerjaan; (5) mampu menilai diri secara objektif dan memahami humor dan (6) menyatunya filosofi hidup.
D.S. Wright dan A Taylor mengemukakan tanda-tanda orang yang sehat mentalnya adalah: (1) bahagia (happiness), dan terhindar dari ketidakbahagiaan: (2) efisien dalam menerapkan dorongannya ntuk kepuasan kebutuhannya: (3) kurang dari kecemasan; (4) kurang dari rasa berdosa (rasa berdosa merupakan refleks dari kebutuhan self-punishment): (5) matang, sejalan dengan perkembangan yang sewajarnya; (6) mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya: (7) memiliki otonomi dan harga diri: (8) mampu membangun hubungan emosional dengan orang lain; dan (9) dapat melakukan kontak dengan realitas (Thompson dan Mathias, 1994).
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
1. Kesehatan merupakan dasar untuk meningkatkan kesegaran jasmani seseorang dalam berpola hidup sehat.
2. Kesehatan bukanlah semata-mata keadaan bebas dari penyakit, cacat/kelemahan yang merupakan hak bagi setiap orang adalah hidup sehat secara badaniah, sosial, dan rohani.






















DAFTAR PUSTAKA

Ladi, Jani, dkk. 2006. Program Ko-Kurikuler : latihan Kesegaran Jasmani, Baris-Berbaris, Tata Upacara Sipil, dan Ceramah tentang Kesehatan Mental. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta : CV. Andi Offset
Yusuf, Syamsu. 2004. Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar